Kenapa Lompat Batu di Nias Hanya Diikuti Pria?

lompat batu nias

Budaya Lompat Batu di Nias sampai sekarang masih dipelihara. Batu ini sejarahnya digunakan untuk menandai dewasanya seorang pria secara fisik. Pria yang mampu melewati batu setinggi dua meter dengan lebar 90 centimeter dan panjang 60 centimeter itu dianggap telah matang. Tradisi ini memang khusus pria karena ada filosofi di dalamnya.

“Memang semua pelompat batu itu laki-laki. Hal ini karena memang pelompat batu itu dianggap sebagai pelindung,” kata Septianus Bulolo, salah seorang pelompat batu, seperti dikutip Okezone.

Untuk bisa melaluinya bukan hal mudah. Pasalnya, pelompat berlari dengan jarak yang tidak jauh dan mesti punya skill yang baik. Pria yang gemuk bisa dipastikan gagal melewati. Bahkan, pria yang berhasil melompatinya kadang berusia jauh lebih muda dan mengalahkan pria yang sudah usia kepala tiga.

“Tetapi, pelompat batu tidak bergantung dari usia berapa, karena sesuai kemampuan saja. Ada yang berusia 30 tahun belum bisa, tetapi ada juga 12 tahun mampu melompati batu,” ujar Septianus.

Tradisi Lompat Batu ini di tempat asalnya disebut dengan Fahombo Batu. Wanita tidak diperbolehkan melompati batu, apalagi hanya sekadar coba-coba. Jika ada pria yang mampu melompatinya, dia biasanya akan dijadikan samu’i mbanua atau pembela kampung. Tugasnya adalah menjadi penengah ketika terdapat perselisihan dengan kampong lain.

Hanya daerah tertentu saja di Pulau Nias yang melestarikan tradisi Lompat Batu. Misalnya adalah masyarakat yang berada di Teluk Dalam.

Foto: Okezone

Advertisements
Kenapa Lompat Batu di Nias Hanya Diikuti Pria? | Mas Bud | 4.5

Leave a Reply

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better